Pembelajaran Aljabar dengan metode basic learning

Kalibaru, Matematika merupakan salah satu bidang studi yang dipelajari pada pendidikan di Madrasah. Matematika adalah ilmu tentang logika, mengenai bentuk, susunan, besaran, dan konsep-konsep yang berhubungan satu dengan lainnya (James dan James 1976). Menurut Ibrahim dan Suparni (2012:35) menyebutkan bahwa mata pelajaran matematika di Sekolah Dasar diberikan kepada siswa dengan tujuan agar siswa memiliki kemampuan berpikir logis, analisis, sistematis, kritis, dan kreatif serta kemampuan bekerjasama.

Sebagai salah satu mata pelajaran di madrasah, matematika sering kali dianggap sebagai mata pelajaran yang sulit. Hal ini juga terjadi pada siswa kelas VII MTsN 11 Banyuwangi, materi menentukan luas bangun datar gabungan. Siswa terlihat pasif ketika pembelajaran. Siswa juga kesulitan dalam menerapkan konsep-konsep pada bangun datar ke bangun datar gabungan. Apabila guru bertanya tentang sejauh mana pemahaman yang didapat mereka mengangguk tanda paham, tetapi jika diberikan satu saja permasalahan mereka tidak dapat menyelesaikannya. Salah satu upaya guru untuk meningkatkan kembali aktivitas dan prestasi belajar matematika siswa dalam materi menentukan luas bangun datar gabungan adalah dengan model pembelajaran Problem Based Learning.

Problem Based Learning merupakan model pembelajaran yang menggunakan berbagai kemampuan berpikir dari peserta didik secara individu maupun kelompok. serta lingkungan nyata untuk mengatasi permasalahan sehingga bermakna, relevan, dan kontekstual.

Problem based learning merupakan model pembelajaran yang difokuskan untuk menjembatani siswa agar memperoleh pengalaman belajar dalam mengorganisasikan, meneliti, dan memecahkan masalah-masalah kehidupan yang kompleks (Torp dan Sage dalam Abidin, 2014, hlm. 160).

Karakteristik yang tercakup dalam Problem Based Learning antara lain: (1) masalah digunakan sebagai awal pembelajaran; (2) biasanya masalah yang digunakan merupakan masalah dunia nyata yang disajikan secara mengambang (ill-structured); (3) masalah biasanya menuntut perspektif majemuk (multiple-perspective); (4) masalah membuat pembelajar tertantang untuk mendapatkan pembelajaran di ranah pembelajaran yang baru; (5) sangat mengutamakan belajar mandiri; (6) memanfaatkan sumber pengetahuan yang bervariasi, tidak dari satu sumber saja, dan (7) pembelajarannya kolaboratif, komunikatif, dan kooperatif. Karakteristik ini menuntut peserta didik untuk dapat menggunakan kemampuan berpikir tingkat tinggi, terutama kemampuan pemecahan masalah.

Langkah pembelajaran Problem Based Learning meliputi: Pertama, guru menjelaskan tujuan pembelajaran, dan saran atau logistik yang dibutuhkan. Guru memotivasi peserta didik untuk terlibat dalam aktivitas pemecahan masalah nyata yang dipilih yaitu tentang contoh gabungan bangun datar dan ditentukan luasannya dalam kehidupan sehari-hari.

Kedua, guru membantu peserta didik untuk mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah yang dipilih siswa tersebut. Ketiga, guru mendorong peserta didik untuk mengumpulkan informasi yang sesuai dan melaksanakan eksperimen untuk mendapatkan kejelasan yang diperlukan untuk menyelesaikan masalah.

Siswa dituntut untuk menjadi penyidik yang aktif. Keempat, guru membantu siswa untuk berbagi tugas dan merencanakan atau menyiapkan karya yang sesuai sebagai hasil pemecahan masalah dalam bentuk laporan. Kelima, Guru membantu pesera didik untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap proses pemecahan masalah yang dilakukan. Dari hasil pengamatan dan penilaian pada mata pelajaran matematika materi menentukan luas bangun datar gabungan siswa kelas VII MTsN 11 Banyuwangi, Kecamatan Kalibaru, Kabupaten Banyuwangi, penerapan model pembelajaran Problem Based Learning dapat meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa. Hasil belajar siswa juga mengalami peningkatan. Hal ini dibuktikan dengan adanya peningkatan rata-rata kelas dan peningkatan ketuntasan belajar siswa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *